Keterlibatan Kaum Melinial Dalam Politik, Maka Perubahan Tidak Terlalu Banyak Memakan Korban

3 menit membaca
Redaksi SN
Imam Rasyidi, Opini - 17 Des 2023
Ilustrasi Game Catur Online. Foto: Ist/Net


Opini (Serikatnasional.id),- Samuel P. Huntington (1990) dalam karyanya berjudul “No easy choice : participation in developing countries” (Pembangunan Politik di Negara Berkembang), mendefinisikan partisipasi politik, antara lain sebagai kegiatan warga negara yang bertindak sebagai pribadi-pribadi (private citizen) untuk menunjukkan keragaman cara dalam mempengaruhi pembuatan keputusan oleh pemerintah.


Keterbatasan partisipasi politik dilingkungan masyarakat tidak hanya terlihat dalam pemilu, akan tetapi bisa dilihat dari minimnya ketertarikan massa dalam menggalang opini terhadap isu populis dan minimnya pelibatan diri serta komunitas kohesif dalam diskursus politik rendah. 


Diperlukan gerakan baru kaum muda untuk ikut serta berpartisipasi dan terlibat langsung dalam menentukan kemajuan demokrasi di Indonesia, agar perubahan yang diinginkan tidak banyak makan korban. 


Dalam beberapa penjelasan, negeri ini sedang menghadapi era bonus demografi dimana penduduk usia produktif lebih besar dibanding usia non-produktif. Istilah ini menjadi bahan perbincangan, khususnya bagi pemerintah Indonesia dan para pakar. Fenomena ini adalah sebuah ledakan penduduk usia produktif yang kemungkinan akan terjadi di Indonesia pada tahun 2020 hingga 2030.Jimmy Ginting (2016). 



Perlu digaris bawahi setiap generasi memiliki pengalaman dan perspektif yang berbeda, perkembangan generasi ini dipengaruhi perjalanan perkembangan yang dilalui pada masanya. Dan perkembangan teknologi mampu menambah pengetahuan dan pengalaman selain didunia pendidikan. 

Disini saya ambil contoh sebagai cerminan agar kaum muda lebih terpikat pada politik. Mari ingat perjalanan Sukarno muda saat itu, singkatnya dia dipandang membahayakan dan namanya semakin besar di kalangan kancah nasional dan internasional setelah mendirikan Partai Nasional Indonesia dan Partindo, sementara Bung Hatta melalui karyanya di media media.
Dua anak muda Indonesia itu berada pada barisan non cooperation atau tidak bekerja sama dengan Belanda, bahkan menolak kehadiran Volkstraad. Sehingga mereka berdua di kenal dengan julukan Dwitunggal ( Dua menjadi Satu). Julukan ini melekat pada dua sekawan proklamator Indonesia Sukarno Hatta. Dengan ide-ide cemerlangnya mampu menyatukan berbagai suku, ras, agama dan budaya dalam satu genggaman Republik Indonesia. 



Gerakan Sukarno Hatta yang saya jelaskan diatas bagaimana kaum muda masa kini bisa berbaur dengan seluruh kalangan terutama dalam tatanan politik agar demokrasi di Indonesia semakin jelas dan konkrit. Maka hal ini menjadi keuntungan tersendiri bagi Indonesia jika dibandingkan dengan negara lain semisal Negara Jepang yang masa depan penduduknya didominasi oleh para penduduk non-produktif. Maka, sumbangsih kaum muda diharapkan mampu memberikan edukasi pada masyarakat sekitar untuk menggunakan hak pilihnya dalam setiap kontestasi politik. 



Jika gerakan kaum muda ini berjalan teratur dan maksimal, Istilah Golput yang selama ini masih erat hubungannya dengan kaum muda tidak akan lagi mengakar di bumi Indonesia ini. Keterlibatan kaum muda untuk bergandengan tangan dengan partai politik sekalipun dipandang perlu demi terselenggaranya perhelatan Pemilihan Umum dengan baik tampa ada gesekan yang tidak diinginkan dan estafet kepemimpinan politik nasional sudah siap dengan matang. 




Penulis: Imam Rasyidi
Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *