
SUMENEP, Serikatnasional.id — Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Sumenep terus memperkuat upaya pelestarian budaya Madura melalui berbagai agenda seni dan budaya. Salah satunya Festival Sapi Sonok yang digelar di Stadion A. Yani Panglegur, Kecamatan Kota Sumenep, pada 8 Agustus 2026.
Festival tersebut menjadi bagian dari kalender event Kabupaten Sumenep dan diikuti sebanyak 30 pasangan sapi sonok. Pertunjukan berlangsung meriah dengan menampilkan keserasian gerak, keteraturan langkah, serta ornamen khas yang menghiasi setiap pasangan sapi.
Kepala Disbudporapar Kabupaten Sumenep, Faruk Hanafi, mengatakan Festival Sapi Sonok merupakan salah satu upaya pemerintah daerah untuk menjaga tradisi Madura agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang.
“Melalui festival ini, warisan tradisi dan adat istiadat Madura tetap hidup dan dilestarikan untuk generasi mendatang,” ujarnya, Kamis (13/8/2026).
Menurut Faruk, pelestarian budaya memiliki keterkaitan erat dengan pengembangan sektor pariwisata. Event budaya seperti Sapi Sonok dinilai mampu menjadi daya tarik bagi masyarakat maupun wisatawan untuk mengenal lebih dekat kekayaan budaya Sumenep.
Selain menjadi sarana pelestarian tradisi, keberadaan event budaya juga berpotensi memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Aktivitas pariwisata yang tumbuh dari kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus mendukung pergerakan ekonomi lokal.
“Pariwisata yang dihasilkan akan memberikan pendapatan bagi masyarakat setempat dan mendukung kegiatan ekonomi lokal,” katanya.
Faruk menilai Sapi Sonok memiliki kedudukan penting dalam kehidupan budaya masyarakat Madura. Tradisi tersebut tidak hanya menghadirkan tontonan, tetapi juga menjadi simbol identitas, kebanggaan, serta warisan leluhur masyarakat Madura, khususnya di Kabupaten Sumenep.
Keunikan Sapi Sonok terlihat dari perpaduan berbagai unsur budaya. Gerakan sapi yang terlatih, ornamen yang menghiasi tubuh sapi, iringan musik tradisional, serta keterampilan para pemilik sapi berpadu menjadi sebuah pertunjukan yang memiliki nilai estetika.
Suasana festival semakin semarak dengan iringan musik tradisional dan lantunan sinden. Setiap pasangan sapi tampil dengan langkah yang teratur dan kompak menuju garis finis.
Penampilan tersebut menjadi salah satu daya tarik utama festival. Tidak hanya memberikan hiburan bagi masyarakat, kegiatan ini juga menjadi ruang untuk memperkenalkan sekaligus memperkuat keberadaan tradisi lokal.
Faruk menegaskan, Sapi Sonok bukan sekadar perlombaan atau kontes kecantikan bagi sapi betina. Lebih dari itu, tradisi tersebut merupakan bagian dari identitas dan kebanggaan masyarakat Madura yang sarat dengan nilai estetika, ketekunan, serta kecintaan terhadap kearifan lokal.
Pemkab Sumenep berharap Festival Sapi Sonok dapat terus menjadi bagian dari kalender budaya daerah. Selain memperkuat pelestarian warisan leluhur, kegiatan tersebut diharapkan mampu mendorong sektor pariwisata sekaligus membuka ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan potensi ekonomi berbasis budaya.
Dengan demikian, Sapi Sonok tidak berhenti sebagai sebuah pertunjukan, tetapi tetap menjadi identitas budaya Madura yang hidup, berkembang, dan dapat dikenal oleh generasi mendatang.


Tidak ada komentar