
SUMENEP (Serikatnasional.id),- Kiyai Imam Sutaji dalam program Dialog Keagamaan di radio Pragaan Station Rabu hari ini (13/03/2024) juga membahas tentang perbedaan agama dan budaya yang sering tidak difahami oleh warga masyarakat.
Instruktur PKP (Pendidikan Kader Penggerak) Nahdlatul Ulama ini menyampaikan bahwa agama itu sebagai aturan dibuat Allah untuk mengatur kehidupan, sementara budaya dibuat manusia sebagai wadah berkembangnya instrumen agama di muka bumi.
Setidaknya ada 3 hal yang dapat difahami dari penjelasan beliau berkaitan hubungan agama dan budaya.
Yang pertama, agama diturunkan untuk menghapus budaya.
“Sebelum datang agama Islam ke Indonesia, ada budaya mencuri, mabuk, zina. Nah agama turun untuk menghapus budaya yang jelas melanggar syariat itu,” ujar beliau di studio Pragaan Station yang berlokasi di kantor kecamatan Pragaan.
Kedua, dosen Universitas Annuqayah ini menjelaskan, bahwa ada budaya yang dikuatkan oleh agama. Sebelum turun agama Islam, budaya tolong menolong sudah ada di Indonesia, juga budaya berbuat baik kepada orang lain, lalu turun perintah agama untuk mengokohkan budaya yang ada tersebut.
“Maka sepakat ulama pada interaksi budaya dan agama seperti itu, peran agama menguatkan budaya,” ucapnya.
Ketiga, sambungnya, peran agama dikukuhkan oleh budaya. Ini kalau di Indonesia lebih dikenal dengan tradisi budaya Islam Nusantara.
“Termasuk antar jamu kerumah tunangan di bulan ramadhan, ini contoh agama yang dikukuhkan oleh budaya. Agamanya berbuat baik, budayanya tradisi antar jamu,” jawabnya menjawab pertanyaan pendengar
Bayangkan, lanjutnya, seandainya orang kawin tak ada budaya tuangan dan pesta perkawinan dengan sejumlah tradisinya, bagaimana budaya bisa terawat di Indonesia.
Tradisi budaya seperti pernak pernik resepsi pernikahan itu bagian dari budaya yang menguatkan perintah agama.
“Akta nikah yang dicatat di KUA itu juga budaya yang menguatkan agama,” jelasnya.
Kiyai yang mulai kondang ceramahnya ini menjelaskan bahwa manusia itu wadahnya agama. Kurang baik jika ada orang mengatasnamakan agama tapi merobek nilai-nilai kemanusiaan. Bahkan kalau ada benturan antara perintah agama dan nilai kemanusiaan, maka yang didahulukan maslahat insaniyah.
“Seperti saat luka, diperban dilarang dokter tak boleh kena air wuduk yang merupakan perintah agama, maka boleh tayammum karena mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan,” jelasnya.
Dengan budaya itu, tuturnya, justru agama ini bisa dilestarikan keberlangsungannya, dengan catatan selama budaya itu tidak bertentangan dengan nilai-nilai syariat. (Zbr)


Tidak ada komentar