Ketika Unggulan Calon Sekda Mundur Teratur, Ada Apa?

3 menit membaca
Redaksi SN
Opini - 05 Feb 2026

Oleh: AKHMADI YASID (*Mantan Jurnalis, kini mengabdi di Parlemen)

ADA kabar yang datang bukan dengan suara keras, tapi dengan daya kejut yang panjang. Seperti petir di siang bolong, melainkan karena kita tak pernah menyiapkan diri untuk terkejut.

Saat tahapan seleksi calon Sekda Sumenep tengah berlangsung, ketika publik mulai menimbang dengan kepala dingin, mengurai nama demi nama, tiba-tiba satu kabar beredar. Ini dia: salah satu calon kuat itu memilih mundur.

Bukan nama kecil. Bukan figur pinggiran. Ia Arif Firmanto, Kepala Bappeda. Seorang yang sejak awal disebut-sebut sebagai kandidat unggulan.

Kita pun bertanya, nyaris serempak: mengapa? Bahkan pertanyaan lain yang lebih tajam: ada apa? Pertanyaan itu wajar.

Dalam setiap proses seleksi jabatan strategis, publik selalu membaca tanda-tanda. Siapa yang kuat, siapa yang dekat, siapa yang dianggap “punya peluang lebih”. Dan Arif Firmanto berada di simpul itu. Setidaknya berdasarkan informasi yang mengemuka.

Ada kedekatan kekeluargaan dengan pemilik kuasa, ada rekam jejak birokrasi, ada posisi strategis yang ia duduki. Semua seolah mengarah ke satu kesimpulan sederhana. Mungkinkah ini yang memang dianggap kandidat serius!

Tapi kenyataan, seperti sering terjadi, tak selalu patuh pada logika yang rapi. Kenyataan tak selalu berbanding lurus dengan keinginan. Lumrah saja. Tapi tetap melahirkan pertanyaan yang jawabannya mungkin panjang. Bahkan sangat panjang.

Sumber dari Komisi I DPRD Sumenep mengonfirmasi kabar itu. Kepala BKPSDM Sumenep, Benny Irawan juga menyampaikan hal serupa. Arif Firmanto mengundurkan diri dari proses seleksi. Titik. Tak ada kalimat panjang, tak ada narasi emosional. Hanya fakta.

Namun justru pada titik itulah tafsir bermula. Tafsir yang pada akhirnya menjadi pertanyaan besar. Bukan sekedar jawaban yang ditunggu publik. Tapi sebuah pernyataan.

Apa yang melatarbelakangi kemunduran ini? Apakah soal hitung-hitungan peluang, soal etika, soal pertimbangan personal, atau justru sesuatu yang tak pernah sampai ke ruang publik?

Kita tak tahu. Dan mungkin, untuk sementara, memang tidak harus tahu. Biarlah tahu-tahu pada saatnya akan ada jawaban untuk semuanya.

Yang jelas, kemunduran ini mengirimkan pesan sunyi tapi kuat: bahkan yang disebut unggulan pun bisa tersingkir, atau memilih menyingkir, ketika “gempa” datang. Entah gempa itu bernama politik, pertimbangan batin, atau kesadaran akan batas-batas yang tak tertulis.

Kini seleksi itu tetap berlanjut. Tinggal tujuh orang. Mereka semua, pada titik tertentu, adalah yang terbaik. Mereka telah melewati pintu-pintu awal, menanggung sorotan, dan bersedia diadili oleh proses.

Dan kita, sebagai publik, kembali pada posisi semula: menunggu. Anda tahu kan, menunggu adalah proses yang membosankan. Tapi episode ini akan tetap menarik. Pasti akan membuat orang banyak tertarik.

Sebab pada akhirnya, jabatan bukan hanya soal siapa yang paling dekat, paling kuat, atau paling sering disebut. Ia adalah pertemuan antara kemampuan, momentum, dan sesuatu yang sering kita sebut sebagai ini: takdir.

Kepada siapa ia akan berpihak, waktu yang akan menjawab. Kepada Anda semua, selamat berpikir panjang dan melelahkan. (*)

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *