Pertempuran Kapten Darmo Sugondo: Kisah Kepahlawanan dari Gresik

3 menit membaca
Redaksi SN
Sosok & Kisah - 21 Nov 2025

Kisah, Serikatnasional.id – Kapten Darmo Sugondo adalah salah satu pejuang kemerdekaan yang kurang dikenal secara nasional, tetapi kisahnya sangat melekat di ingatan masyarakat Gresik dan sekitarnya.

Dari latar belakang spiritual hingga operasi militer lokal, perjuangannya mengandung nilai-nilai kepemimpinan, pengorbanan, dan solidaritas.Menurut Rio Willy, guru sejarah di SMANU Gresik, Darmo Sugondo pernah bergabung dengan Heiho (pasukan cadangan pada masa pendudukan Jepang) pada tahun 1943, lalu berpindah ke PETA (Pembela Tanah Air).

Setelah Jepang kalah, ia kembali ke Gresik dan mendirikan BKR (Badan Keamanan Rakyat) di bawah Mayjen Sungkono. Kebiasaan spiritual Darmo seperti melakukan semedi, bertapa, serta meminta doa kepada para kiai saat masa agresi menjadikannya tokoh yang tidak hanya militer, tetapi juga religius dalam perjuangan.

Pada Oktober 1946, pasukan sekutu (Inggris, Belanda, India) memasuki Surabaya. Dalam situasi itu, Kapten Darmo Sugondo memimpin Batalyon 3 BKR Gresik, basisnya di Kalitangi – Segoromadu (perbatasan Gresik–Surabaya). Ketika pertahanan di pinggiran Surabaya (dipimpin Kapten Dulasim) berhasil ditembus oleh pasukan sekutu pada Desember 1946, Darmo dan pasukannya berusaha menyerang balik agar penjajah tidak memasuki Gresik. Namun, pasukannya kewalahan dan terpaksa mundur.

Pada Maret 1947, baku tembak terjadi di Jembatan Kalitangi (Segoromadu) antara pasukan Darmo dan pasukan sekutu. Dalam pertempuran itu, Darmo terkena tembakan dan dilarikan ke Lamongan untuk dirawat.

Meskipun terluka, ia kembali memimpin pasukan setelah pemulihan karena “melihat anak buahnya banyak tumbang.” Strategi pertahanannya mencakup pembagian pasukan untuk menyergap: sebagian ditempatkan di seberang jembatan, sebagian di sisi Gresik. Menurut narasi, Darmo merencanakan pemusnahan jembatan Kalitangi agar akses musuh ke Gresik terputus. Akhirnya, menurut versi Rio Willy (peneliti lokal), pasukan Darmo “berhasil memenangkan pertempuran” di tahun 1947.

• Peran Masyarakat Lokal

Bukan hanya pasukan militer yang terlibat. Dalam konflik lokal yang lebih kecil seperti pertempuran di Desa Kudubanjar (Jombang), penduduk ikut aktif mendukung para pejuang dengan membuka dapur umum untuk memberi makan laskar di tengah desingan peluru.

Menurut penelusur sejarah lokal (Faisol), pertempuran di Kudubanjar juga terkait dengan perebutan pasokan gula dari Pabrik Gula Gempolkrep, yang dikendalikan Belanda.

Nama Mayor Darmo Sugondo muncul sebagai salah satu tokoh sentral dalam perlawanan di utara Brantas. Tugu Peluru Kudubanjar kemudian didirikan sebagai monumen pengingat pertempuran dan pengorbanan masyarakat lokal.

Di Gresik, sosok Darmo Sugondo sangat dihormati, terutama di komunitas Muhammadiyah. Dalam peringatan HUT RI, siswa SMAM Muhammadiyah 1 Gresik mengenang jasanya sebagai pejuang lokal. Nama Jalan Kapten Darmo Sugondo di Gresik menjadi bukti pengakuan lokal atas kontribusinya.

Sayangnya, meskipun kontribusinya besar di tingkat lokal, menurut sejumlah narasi, ia belum diangkat sebagai Pahlawan Nasional. Rio Willy dalam penelitiannya memang mengusulkan hal tersebut. “Catatan” Sebagian besar narasi pertempuran Darmo Sugondo bersumber dari penelitian lokal (skripsi, wawancara, cerita lisan), terutama oleh guru dan penelusur sejarah Gresik.

Data dari arsip resmi militer Belanda atau dokumen KNIL yang menyebut nama Darmo secara eksplisit sangat sulit ditemukan di sumber publik mainstream.

Sebagian cerita (seperti “menang pertempuran 1947” atau “ledakan jembatan Kalitangi”) bersifat naratif berdasarkan ingatan lokal, dan mungkin sulit diverifikasi secara independen tanpa penelitian arsip lanjutan.

Sumber:

Suara Jatim — “Ini Kisah Kapten Darmo Sugondo …”

Koran Memo — “Tugu Peluru Kudubanjar … Mayor Darmo Sugondo”

PWMU.CO — Peringatan Kapten Darmo Sugondo di SMA Muhammadiyah Gresik

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *