Sejarah Berdirinya Lembaga Pendidikan Pesantren An-Nusyur

4 menit membaca
Redaksi SN

Sumenep, Serikatnasional.id — Lembaga Pendidikan Pesantren (LPP) An-Nusyur merupakan salah satu lembaga pendidikan berbasis pesantren yang memiliki perjalanan panjang dan penuh nilai historis. Berdiri sejak tahun 1960 dengan pembukaan Madrasah Ibtidaiyah oleh Kiai Hasbullah, lembaga ini kemudian berkembang menjadi pondok pesantren yang diasuh oleh KH. Hayyi Syafi’i dan pada tahun 1966 memperoleh pengakuan resmi dari Pemerintah Republik Indonesia.

MTS An-Nusyur berdiri pada 15 Juli 1997, disusul pendirian Madrasah Aliyah (MA) An-Nusyur pada 2007. Pendirian MA ini melalui rapat yayasan yang terdiri dari KH. Abd Hayyi Syafi’ie, KH. Junaidi Mu’arif, Subairi Karim, S.Ag., serta Ketua Yayasan KH. Ma’mon Amar, S.Ag. Sejak berdiri hingga kini, MA An-Nusyur dipimpin oleh Ust. Rafi’ie dengan jajaran tata usaha mulai dari Ali Tsabit Baidla’ie, Hamdi Muhadir, hingga Dhahir Hamdin.

Menurut Ustadz Rafi’ie, S.Ag, pendirian MA An-Nusyur dilatarbelakangi keresahan masyarakat terhadap mahalnya biaya pendidikan tingkat atas pada masa itu. Karena itu, MA An-Nusyur hadir sebagai solusi bagi siswa-siswi dari wilayah Aeng Panas, Prenduan, Karduluk, serta masyarakat kurang mampu.

Akar Sejarah: Dari Karang Nagan hingga An-Nusyur

Kembali pada masa Kiai Hasbullah, lingkungan lembaga ini dahulu dikenal sebagai Karang Nagan karena banyaknya pohon Nagan (pohon Siwalan muda). Dalam perjalanannya, LPP An-Nusyur tumbuh menjadi lembaga yang hingga usia ke-58 tahun tetap konsisten mengajarkan pendidikan berbasis nilai-nilai Nahdlatul Ulama dan tradisi salaf. Pembelajaran agama seperti fikih, nahwu, sharaf, dan kitab kuning menjadi ciri khas yang dipertahankan hingga kini.

Seiring waktu, lembaga ini juga mengakomodasi pelajaran umum pada seluruh jenjang pendidikan mulai dari KB hingga MA, yang seluruhnya berada di Dusun Cecce’, Desa Aeng Panas, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, Madura.

Perjalanan Nama: Karang Nagan – Kia Blumbang – Kedungdung – dan Menjadi An-Nusyur

KH. Ma’mon Amar, S.Ag, Dewan Pengasuh sekaligus Ketua Yayasan An-Nusyur, menceritakan bahwa pada sekitar 1960-an kawasan ini dikenal sebagai Karang Nagan. Namun tidak lama kemudian nama tersebut berubah menjadi Kia Blumbang karena adanya cekungan tanah berisi sumber mata air yang terus mengalir. Selanjutnya wilayah tersebut dikenal sebagai Kedungdung.Cerita sejarah An-Nusyur tidak bisa dilepaskan dari sosok Kiai Hasbullah sebagai peletak dasar pesantren. Ada kisah penting ketika Gung Ahmad kedatangan Syekh Akbar, iparnya sendiri. Syekh Akbar menceritakan bahwa beberapa kiai di daerah tertentu, termasuk Kedungdung, wafat di usia muda. Karena itu, daerah tersebut dianggap membutuhkan sosok pemimpin yang memiliki kemampuan spiritual tinggi.Atas pertimbangan itu, Syekh Akbar menunjuk Kiai Dahni—cucu ponakan dari garis keturunan Syekh Suryo Mulyo Ger Carang (Pujuk Bire)—dan menikahkannya dengan putri Gung Ahmad, Nyai Ardiba. Dari pasangan ini lahir beberapa keturunan, di antaranya Kiai Aliman, Kiai Halima, Kiai Ali Bakri, dan Nyai Aliyah. Di langgar sederhana di Kedungdung inilah dakwah Islam mulai ditegakkan.

Dalam kisah babat pesantren, Kiai Dahni dikenal sebagai sosok berilmu sekaligus kesatria. Pernah terjadi sayembara melawan salah satu pemuka agama yang menjanjikan pernikahan dengan putrinya bagi siapa pun yang mampu mengalahkannya. Kiai Dahni memenangkan sayembara tersebut.Dari keturunannya, lahirlah Kiai Hasbullah yang kemudian menikah dengan Nyai Hotijah dan memiliki keturunan Sa’diyah, Seruji, dan Hasan Busri—yang kemudian tinggal di Jawa. Setelah menikah dengan Nyai Suhrati dari Bandungan, beliau dikaruniai putri Jumriyah dan kemudian Ummul Khoir saat tinggal di Asem Kandang. Kedigdayaan Kiai Hasbullah diakui hingga diceritakan pernah menjadi sasaran ilmu hitam namun tak mempan.

Kembalinya Kiai Hasbullah ke Kadungdung

Masyarakat Kedungdung sempat membujuk Kiai Hasbullah untuk kembali mengajar, hingga akhirnya beliau bersama keluarga tinggal di Pekarangan Nagan milik Buk Toya dan Buk Rus.

Generasi Pengasuh: Ra Abd. Hayyi Syafi’i

Sepeninggal orang tuanya, Ra Abd Hayyi Syafi’i dibesarkan dan menempuh pendidikan SR di Besuki selama tiga tahun. Beliau sempat ditawari menjadi PNS di Jawa, namun ditolak oleh Kiai Hasbullah karena ingin menjadikannya penerus kepemimpinan pesantren.K. Hasbullah bahkan berpesan agar Ra Hayyi tidak dijodohkan dengan siapa pun, karena akan dinikahkan dengan putrinya sendiri.Ra Hayyi kemudian menimba ilmu di Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-guluk dan menjadi guru setelah lulus Muallimin. Pada 1970, beliau menikah dengan Neng Afiah pada usia 25 tahun, sementara Neng Afiah masih berusia 10 tahun.Dari sinilah kemudian nama Karang Nagan, Kia Blumbang, dan Kedungdung secara resmi diganti menjadi An-Nusyur, atas inisiatif KH. Hayyi Syafi’i bersama K. Hasbullah, K. Arbak, dan Musajjad.

Estafet Kepemimpinan An-Nusyur

KH. Abd Hayyi Syafi’i kemudian ditunjuk sebagai pengasuh utama An-Nusyur, sementara K. Arbak dan Musajjad mengurus berbagai kebutuhan kelembagaan.Beliau bahkan sempat diminta menjadi Punggawa di Brunei Darussalam, namun kembali dilarang oleh K. Hasbullah agar tetap memimpin An-Nusyur.

Keturunan KH. Abd. Hayyi Syafi’i & Nyai Hj. Afiah

Pasangan ini dikaruniai putra-putri:Nyai Lum’atun (menikah dengan K. Ridha’i)Nyai Irtifaah (menikah dengan KH. Ma’mon Amar, S.Ag., Ketua Yayasan An-Nusyur)K. Achmad DaniK. Ali YurdhaNyai Suaida.

Penulis: Imam Rasyidi, S.Sos.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *