
Sumenep, Serikatnasional.id – Ada satu hal yang sering luput ketika publik berbicara soal birokrasi: pembangunan daerah tidak pernah lahir dari pidato panjang. Ia lahir dari jejaring kerja yang nyata.
Foto Chainur Rasyid bersama Menteri Pertanian Arman, misalnya, bisa dibaca bukan sekadar dokumentasi seremonial.
Di balik itu ada pesan yang lebih sunyi tentang jaringan koordinasi, akses kebijakan, dan kemampuan menjembatani pusat dan daerah.
Dan di titik inilah Sumenep sedang berdiri.
Membangun daerah bukan hanya soal program yang terdengar hebat, tetapi soal siapa yang mampu menjaga mesin birokrasi tetap berjalan tanpa suara gaduh.
Karena itu, ketika publik mulai membicarakan hasil assessment, kita perlu jujur melihatnya dengan logika birokrasi, bukan logika sorak-sorai.
Assessment hanyalah alat penyaring. Ia bukan penentu akhir. Bukan mahkota kemenangan. Hanya tiket masuk.
Selebihnya ditentukan oleh hal-hal yang sering tidak terlihat di permukaan: jam terbang lintas OPD, kemampuan koordinasi yang tenang, kematangan administratif, dan stabilitas karakter yang tidak mudah terseret arus.
Sekda, pada akhirnya, bukan posisi yang membutuhkan figur paling ramai. Jabatan itu lebih mirip dirigen orkestra, mengatur ritme tanpa harus berdiri paling depan.
Di antara nama-nama yang muncul, Chainur Rasyid terbaca memiliki pola yang sesuai dengan kebutuhan itu.
Memimpin Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian bukan perkara kecil. OPD ini bersentuhan dengan banyak sektor: ekonomi rakyat, pangan, kebijakan pusat, hingga stabilitas sosial.
Dibutuhkan kemampuan membangun komunikasi lintas level, dari kementerian hingga petani di lapangan.
Karakter teknokratiknya juga menjadi catatan penting: bekerja tanpa banyak bicara, tidak gaduh, dan tidak kontroversial.
Dalam bahasa birokrasi, ini disebut low resistance. Artinya relatif aman untuk menjaga stabilitas organisasi.
Dan sering kali justru tipe seperti inilah yang diam-diam disukai sistem.
Karena Sekda bukan tentang siapa yang paling pandai berbicara.Tetapi siapa yang mampu membuat birokrasi berjalan tanpa ribut.
Penulis : Hambali Rasyidi, Selasa (24/02/2026)

Tidak ada komentar