Tujuh Belas Oktober di Rimba Borneo: Lompatan Malam 13 Penjaga Merah Putih

4 menit membaca
Redaksi SN
Sosok & Kisah - 21 Nov 2025

Oleh: Hagia Sophia

Kisah, Serikatnasional.id – Pada pukul 02.30 dini hari, 17 Oktober 1947, sebuah sayap pesawat Dakota RI-002 membelah langit malam menuju Jantung Borneo.

Di dalamnya, 13 pemuda berpakaian sederhana, hanya latihan darat satu minggu, parasut seadanya, dan tekad yang lebih besar dari rimba yang menanti dan siap melompat demi mempertahankan satu bendera: merah-putih berkibar.

Mereka adalah skuad pertama penyerbu udara dari Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) yang diterjunkan ke daratan Kalimantan dalam operasi yang akan dikenang sebagai titik balik perjuangan gerilya daerah.

• Kalimantan Terblokade, Misi Terjun Mustahil

Setelah proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, wilayah Kalimantan harus menghadapi kenyataan keras: blokade laut Belanda menutup jalur suplai dari Jawa. Rakyat Kalimantan menuntut bantuan. Gubernur Pangeran Mohammad Noor kemudian mengirim surat kepada Kepala Staf AURI, meminta agar pemuda-Kalimantan dilatih lalu diterjunkan ke hutan mereka sendiri untuk menyusun gerilya dan membuka jalur komunikasi.

Karena kondisi genting, formasi terbentuk cepat. Sekitar 60 pendaftar dipilih dari Kalimantan, Sulawesi, dan Jawa, lalu ditampung di Asrama Padasan, Warungboto, Yogyakarta. Mereka hanya mendapatkan pelatihan darat, cara terjun payung teori, melipat parasut tanpa satu lompatan pun selama pelatihan. Satu minggu latihan saja. parasut seadanya, hutan rimba yang tak kenal ampun, dan lawan yang telah menancapkan kaki di tanah Kalimantan.

• Persiapan & Peluncuran

Dipimpin oleh Tjilik Riwut, putra Dayak yang menjadi penunjuk titik pendaratan, misi diberi kode: operasi lintas-udara pertama AURI ke Kalimantan.

Pesawat RI-002—dipiloti oleh Bob Earl Freeberg—lepas landas dari Yogyakarta. Dari ketinggian, mereka menatap rawa, hutan, sungai yang gelap dan penuh ancaman. Di bawah mereka: Kalimantan yang belum sepenuhnya merebahkan diri untuk Republik.

Setibanya di atas jalur rawa-rawa Kalimantan, setelah kebingungan wilayah penerjunan (titik yang direncanakan di Sepanbiha ternyata bergeser ke dekat Kampung Sambi, antara Sungai Seruyan dan Rantau Pulut, Kotawaringin) mereka mulai meloncat.

Pendarian dan Gerilya Pertama

Di antara 14 yang terdaftar, 13 berhasil mendarat dengan selamat. Nama-nama mereka: Hari Hadisumantri, Ahmad Kosasih, Iskandar, Ali Akbar, Mica Amiruddin, Emmanuel (Kahayanhulu), C. Williams, Morawi, Bachri, Darius, M. Dachlan, J. Bitak, dan Suyoto.

Beberapa penerjun tersangkut pohon tinggi karena kondisi hutan Kalimantan yang rapat, payung tak selalu mulus mendarat. Namun mereka tetap berdiri. Pada hari ketiga, barisan akhirnya berkumpul dan mulai bekerja: membuka stasiun pemancar radio strategis, menyiapkan daerah operasi gerilya, merajut aliansi dengan penduduk lokal, terutama suku Dayak Kahayan dengan tujuan menghubungkan perjuangan mereka ke Jawa dan Sumatra. Misi mereka bukan hanya terjun. Ini adalah gerilya udara: menciptakan titik pijak dalam hutan, mendirikan kordinasi komunikasi, membentuk kekuatan lokal yang tak terduga oleh Belanda. Mereka bergerak dalam bayang-bayang malam, bersembunyi di balik pepohonan rimba, berkomunikasi lewat radio yang dibawa sebagai perlengkapan.

• Pertempuran & Pengkhianatan

Namun rimba tak memberi ruang bagi kelengahan. Pada dini hari 23 November 1947, di ladang tepi Sungai Koleh (anak Sungai Seruyan), mereka diserang secara mendadak oleh pasukan Belanda yang menyerang dari tiga jurusan. Hujan peluru memecah kesunyian. Letnan Udara II Anumerta Iskandar gugur, Sersan Mayor Anumerta Ahmad Kosasih gugur, Kapten Udara Anumerta Hari Hadisumantri pun tertembus peluru. Sementara itu, sebuah pengkhianatan terjadi: seorang lurah kampung ­Albert Rosing memberi informasi kepada Belanda, menyebabkan posisi mereka terjepit. Jika bukan karena pengkhianatan itu, barangkali operasi bisa lebih lama bertahan. Pengepungan makin sempit. Dengan luka dan kelelahan, rombongan sisanya melarikan diri, namun sesudah kira-kira dua bulan, mereka semua tertangkap. Mereka dibawa ke Banjarmasin, kemudian ke penjara di Jakarta (Glodok, Cipinang, Bukit Batu). Operasi sekali loncat itu, berakhir dalam jeruji, namun tak hancur semangatnya.

Makna dan Warisan

Meski secara taktis misi gagal mencapai sasaran besar-besaran, secara simbolis operasi ini gemilang.

Inilah loncatan udara pertama pasukan Republik dan untuk Kalimantan, inilah bukti bahwa perjuangan tak hanya di Jawa, tak hanya di kata-kota, tetapi juga di rimba, di antara sungai‐seribu bayang.

Tanggal 17 Oktober kemudian diperingati sebagai hari terbentuknya pasukan payung AURI / pasukan khusus udara di Indonesia.

Prokal – Portal Kalimantan

Setiap pohon rimba yang dilompati, setiap malam yang dilintasi dan setiap peluru yang dilepaskan, berbicara tentang keberanian yang tak gentar, tentang nyali yang ditaruh di atas satu landasan: kemerdekaan.

Refleksi HeroikBayangkan 13 sosok—tanpa pengalaman terjun nyata, di udara penuh rintangan, menuju rimba tak kenal ampun—tetap meloncat. Tanpa jaminan pulang, mereka memilih untuk maju. Mereka bukan pasukan besar, bukan peralatan mewah, tapi tekad mereka melebihi semua.

Mereka memilih hutan Kalimantan yang jaraknya ribuan meter dari pusat pemerintah, agar suara Republik dapat terdengar di sana.

Semoga kisah mereka menjadi nyala obor bagi generasi sekarang—bahwa kemerdekaan dan keberanian tak mengenal ukuran besar atau kecil, tak terbatas oleh lokasi atau jumlah. Di rimba, di malam, di antara bayangan, mereka terjun… demi negeri.

Sumber Valid:

“17 Oktober 1947, Operasi Lintas Udara Pertama AURI” — AURI History. TNI AU

“Operasi Lintas Udara Pertama” — Wikipedia Bahasa Indonesia. Wikipedia

“Kisah Heroik 13 Penerjun Pertama di Indonesia” — tni.mil.id. TNI“

Kisah Heroik 13 Penerjun Pertama di Indonesia” — CahayaBaru.id. cahayabaru.i

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *