Sisi Jenaka Jenderal A.H. Nasution dan Sang Nyonya Yohana Sunarti

3 menit membaca
Redaksi SN
Sosok & Kisah - 17 Feb 2026

Jatim, Serikatnasional.id – Di balik ketegasan seorang jenderal besar, tersimpan kisah-kisah ringan yang memperlihatkan sisi manusiawi seorang pemimpin. Itulah yang tergambar dalam cerita tentang Jenderal Abdul Haris Nasution dan istrinya, Yohana Sunarti pasangan yang tak hanya berjalan beriringan dalam kehidupan rumah tangga, tetapi juga dalam pusaran sejarah Indonesia.

Suatu hari pada tahun 1967, ketika menjabat sebagai Ketua MPRS, Nasution melakukan kunjungan ke Penjara Tangerang untuk meninjau para tahanan politik (tapol) yang tengah menjalani masa kerja. Dalam rombongan tersebut, turut serta sang istri tercinta, Yohana Sunarti.

Di tengah suasana peninjauan yang serius, tiba-tiba terdengar suara Ibu Sunarti memanggil suaminya dengan nada spontan, “Papi, papi, sini deh! Ada PKI Arab!”Yang dimaksud adalah seorang tapol berdarah Arab bernama Hadi. Ia hanya bisa tersenyum kecut sambil berbisik kepada rekannya, Tuba bin Abdurahim, merasa dirinya seolah menjadi tontonan karena sebutan itu.

Namun, menurut kesaksian Tuba di kemudian hari, tak ada nada kebencian dalam seruan Ibu Sunarti hanya keterkejutan melihat seorang berdarah Arab yang terseret dalam pusaran politik saat itu.

Kebersamaan Nasution dan istrinya memang kerap menjadi perhatian banyak orang. Letjen Gatot Subroto, sahabat sekaligus wakilnya saat Nasution menjabat Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), tak jarang menggoda kebiasaan Nasution yang hampir selalu membawa sang istri dalam perjalanan dinas ke luar negeri.

Suatu ketika di Bandara Kemayoran, rombongan bersiap bertolak ke luar negeri. Gatot Subroto memanggil ajudan Nasution, Kolonel Isa Edris, dan berkelakar, “Soldat, buat apa si Batak itu bawa-bawa ‘rantang’?”Awalnya Isa Edris tak memahami maksudnya. Namun tak lama ia sadar bahwa “rantang” yang dimaksud Gatot adalah sindiran jenaka untuk Nyonya Nasution. Gatot, yang dikenal blak-blakan dan humoris, menyindir sahabatnya yang selalu setia ditemani istri, seolah hendak berkata: orang bepergian mencari suasana segar, tapi tetap membawa “bekal dari rumah”.

Meski dikenal sebagai sosok perwira yang serius dan disiplin, Nasution ternyata mampu bersenda gurau, terutama di hadapan sang istri. Dalam memoarnya Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 1: Kenangan Masa Muda, ia menuturkan bahwa pada masa revolusi 1945, Sunarti sempat aktif di Pemuda Republik Indonesia (PRI), selain juga terlibat di Palang Merah Indonesia (PMI).

Kala itu, kata “Republik” memang menjadi magnet yang menyala di dada para pemuda. Namun Sunarti tak lama bertahan di PRI dan memilih fokus pada kegiatan kemanusiaan di PMI. Keputusan itu kelak menjadi bahan candaan manis di antara keduanya.

Sebab PRI yang semula netral kemudian berkembang menjadi cikal bakal Pemuda Sosialis (Pesindo). Ketika pemberontakan PKI di Madiun pecah pada 1948, banyak anggota Pesindo ditangkap oleh TNI Divisi Siliwangi yang saat itu dipimpin Kolonel Nasution.

Bertahun-tahun kemudian, dalam suasana santai sebagai suami istri, Nasution menggoda Sunarti dengan kalimat yang mencerminkan perpaduan cinta dan sejarah:

“Kalau dahulu kau tidak keluar, terpaksa kau saya tangkap.”

Sebuah gurauan ringan, namun sarat makna tentang pertemuan antara tugas negara dan takdir rumah tangga.

Di balik sejarah yang keras dan penuh konflik, terselip cerita-cerita kecil yang menghangatkan. Kisah Nasution dan Sunarti mengingatkan bahwa bahkan para jenderal pun memiliki ruang untuk tertawa, mencinta, dan mengenang masa lalu dengan senyum.

Sumber : Historia.id

Penulis: HJ. Hagia Sofia

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *