Apakah Sama Orang Yang Faham Dan Tidak Faham ? By: Muhammad Sahli Hamid

2 menit membaca
Redaksi SN
Literasi, News - 06 Des 2021

 

Foto Ilustrasi/Geotimes

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

اَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ اٰنَاۤءَ الَّيْلِ سَاجِدًا وَّقَاۤىِٕمًا يَّحْذَرُ الْاٰخِرَةَ وَيَرْجُوْا رَحْمَةَ رَبِّهٖۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ ۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِ – ٩

“(Apakah kamu orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, karena takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah, “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran.”

Banyak dari kita yang hanya memahami sesuatu sepintas saja atau setengah-setengah atau bahkan tidak sama sekali. Ini tentu diakibatkan dari keengganan atau ketidakmampuannya untuk memahami lebih mendalam, sehingga akan bertindak dan berkata sesuai keinginannya, bukan atas dasar panduan dan pemahaman yang benar.

Ungkapan yang sering kita dengar, “Jika tidak bisa membangun maka jangan merobohkan”, “Jika tidak bisa mengharumkan, jangan membuat busuk”, “Jika tidak bisa menanam, jangan merusak tanaman”, ada relevansinya dengan kehidupan saat ini, di saat sebagian orang melakukan sesuatu atas dasar pengetahuannya, atau yang lebih tajam bertindak menurut egonya. Pemahaman yang benar akan melahirkan sikap yang benar dan sebaliknya, jika pemahaman kita salah, akan fatal akibatnya.

Dalam konteks ini, Aplikasi Asri dengan perjuangannya menanam bibit pohon dan berusaha membuat asri lingkungan, tapi di bagian lain ada sebagian orang yang mengganggunya dengan merusaknya atau mencabutnya dan sebagian lain tetap kebiasaannya mengotori lingkungan yang telah susah payah dibangun. Walaupun resiko sebuah perjuangan memang harus berkorban, baik tenaga, pikiran, biaya bahkan perasaan.

Fenomena di manapun, masih lebih banyak orang yang kurang peduli daripada yang peduli, masih lebih banyak yang miskin dari yang kaya dan seterusnya. Hal ini membuktikan, bahwa sebuah perjuangan akan sangat melelahkan dan banyak menguras energi. Tetapi bagi pejuang sejati, tidak akan pernah berhenti untuk terus mengawal visinya agar apa yang diimpikan menjadi sebuah kenyataan, sekalipun banyak rintangan yang menghadang.

Sungguhpun demikian, tidak mungkin suatu keinginan selalu berbanding lurus dengan kenyataan. Di situlah sebenarnya dinamika dan irama perjuangan, tidak ada lain yang menjadi kegelisahan dari seorang yang punya pemahaman benar, kecuali jika banyak orang akan terbiasa memiliki pemahaman salah yang akan membuat daftar kesemrautan semakin panjang dan berlanjut kapanpun dan dimanapun berada.

Untuk itu, kesadaran kolektif dan pengetahuan serta pengalaman yang luas harus senantiasa ditunjukkan dan menjadi instrumen paling nyaring di ruang-ruang kehidupan. Tetaplah bahagia, sekalipun sakit nyata adanya.

Lembah Peradaban

06 Desember 2021

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *