Asal-usul dan Sejarah Kota Tua di Sumenep Madura

3 menit membaca
Redaksi SN
News - 30 Nov 2025

Sumenep, Serikatnasionalid – Kota Tua Kalianget merupakan salah satu kawasan paling bersejarah di Madura, sekaligus menjadi kota modern pertama di Pulau Madura. Terletak di sebelah timur Kota Sumenep, kawasan ini menjadi saksi peradaban penting yang berkembang di pesisir Selat Madura sejak masa kolonial. Bagi banyak masyarakat Indonesia, nama Kalianget tentu bukan hal asing lagi, karena jejak sejarahnya yang masih bertahan hingga hari ini.

Melihat jejaknya ke belakang, Kota Tua Kalianget mulai berkembang ketika Kongsi Dagang VOC mendirikan pusat aktivitasnya di wilayah ini pada awal abad ke-17 atau abad ke-18. Mengutip laman Pemerintah Kabupaten Sumenep (17/1/2024), kawasan ini dipilih VOC karena letaknya sangat strategis serta menjadi bandar pelabuhan tersibuk di Selat Madura.

Kedudukan geografis itu menjadikan Kalianget sebagai pusat perdagangan yang penting di wilayah timur Madura.

Di masa awal kolonisasi, VOC sempat membangun sebuah benteng di wilayah Kalianget Barat. Namun karena posisinya dianggap kurang menguntungkan, bangunan itu terbengkalai dan kemudian dikenal masyarakat sebagai Loji Kantang.

Di luar itu, VOC tetap mengembangkan Kalianget sebagai kawasan modern dengan tata ruang yang lebih maju dibandingkan daerah lain di Madura, bahkan lebih berkembang dibandingkan sejumlah wilayah di Nusantara kala itu. Selain pemukiman, VOC juga membangun sarana-sarana pendukung seperti pelabuhan modern yang menunjang aktivitas dagang mereka.

Setelah VOC dibubarkan, Pemerintahan Hindia Belanda mengambil alih seluruh aset dan bangunan bercorak Eropa yang telah berdiri di Kalianget. Pada masa inilah pemerintah kolonial memperkuat dominasinya terhadap hasil garam Madura. Salah satu langkah utamanya adalah mendirikan Pabrik Garam Briket Modern pertama di Indonesia pada tahun 1899 — sebuah fasilitas industri yang menandai monopoli garam oleh pemerintah kolonial.

Selain pabrik garam, Belanda juga membangun berbagai fasilitas perkotaan berstandar modern seperti lapangan tenis, kolam renang, bioskop, taman kota, serta perumahan pegawai. Mereka juga mendirikan pos penjagaan bergaya Eropa, gedung pembangkit listrik, hingga jaringan transportasi berupa lokomotif dan lori yang digunakan untuk mengangkut garam dari ladang ke pabrik dan pelabuhan. Tak ketinggalan, sejumlah struktur seperti cerobong pabrik dan pelabuhan tua turut memperkuat identitas Kalianget sebagai pusat industri garam terbesar pada masa itu.Hingga kini, jejak kemegahan Kota Tua Kalianget masih dapat dijumpai.

Bangunan-bangunan berarsitektur kolonial, fasilitas publik peninggalan Belanda, hingga kawasan pemukiman tua tetap berdiri sebagai saksi bisu perjalanan sejarah Madura pada masa perdagangan dan kolonialisasi Eropa. Peninggalan-peninggalan tersebut bukan hanya bernilai historis, tetapi juga menjadi bukti kuat mengenai bagaimana pemerintah Hindia Belanda pernah memonopoli industri garam di Madura.

Demikian ulasan mengenai asal-usul dan sejarah Kota Tua Kalianget—kawasan penuh kisah yang hingga kini tetap menjadi bagian penting dalam mozaik sejarah Madura.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *