
Oleh : HJ. Hagia Sophia
Kisah, Serikatnasional.id – Di antara gelombang gelap Laut Singapura pada malam 10 Maret 1965, dua pemuda Indonesia, Koperal Usman Janatin dan Kopral Harun Thohir duduk dalam keheningan di atas perahu karet yang hanya diterangi cahaya samar bulan. Mereka masih sangat muda: Usman 19 tahun, Harun 21 tahun.
Namun sorot mata mereka telah menyimpan tekad seorang prajurit yang siap menanggung apa pun yang menanti di ujung misi.
Mereka telah menerima tugas dari KKO (kini Korps Marinir) menyusup ke jantung kota Singapura dan melakukan operasi sabotase terhadap instalasi vital sebagai bagian dari masa Konfrontasi Indonesia–Malaysia.
Mereka sadar betul: ini bukan misi kembali. Ini adalah perjalanan yang bahkan mungkin tidak diberi nama di buku sejarah, tetapi akan diingat oleh keluarga mereka dalam air mata panjang yang tak selesai.
1. Berangkat Dalam Gelap: “Kita lakukan ini untuk Tanah Air…”
Di pangkalan, sebelum berangkat, keduanya sempat saling menatap lama.Tidak ada kata-kata heroik. Tidak ada teriakan patriotik. Yang ada hanya detak jantung yang serempak dengan suara ombak.
Usman menepuk bahu Harun.“Apa pun yang terjadi nanti… kita tetap bersama.”
Dengan perahu karet kecil, mereka menghindari patroli, menyusuri gelap, membawa detonator, bahan peledak, serta pakaian sipil. Tubuh mereka menggigil. Namun bukan karena angin malam, melainkan pemikiran bahwa mungkin malam itu adalah yang terakhir mereka lihat.
2. Sabotase di MacDonald House: Ledakan yang Menghentikan Waktu
Pagi 10 Maret 1965, mereka berhasil menyusup ke pusat Singapura. Dengan langkah tenang yang disamarkan sebagai pejalan kaki biasa, mereka memasuki MacDonald House, sebuah bangunan komersial di Orchard Road yang dipilih sebagai target karena menjadi bagian dari jaringan ekonomi negara.
Mereka menempatkan bom dengan detik-detik yang terasa seperti memakan jiwa.Usman menggigit bibirnya, Harun memeriksa pintu keluar, dan ketika semuanya siap, mereka meninggalkan gedung dengan jantung yang berdebar keras.
Pukul 15.07, ledakan terjadi.Getarannya mengguncang Singapura, kaca pecah, tubuh-tubuh terhempas. Tiga warga sipil tewas, 33 lainnya luka-luka.
Saat itu, mereka tidak melihat ledakan. Tidak melihat asap. Mereka sudah berlari jauh, menyusuri jalan-jalan belakang Singapura, berusaha mencapai titik penjemputan.Tetapi nasib tidak memberi mereka jalan pulang.
3. Terjebak & Tertinggal: Perahu Karet yang Tidak Pernah Datang
Malam harinya, keduanya tiba di lokasi yang seharusnya menjadi titik evakuasi. Namun gelombang tinggi dan penjagaan ketat membuat kapal penyelamat tidak bisa mendekat.Mereka menunggu. Jam demi jam. Lapar, kelelahan, dan mulai putus asa.
Tangis tidak pernah tercatat dalam dokumen resmi. Tetapi setiap pemuda yang mengira dirinya tidak akan pulang pasti pernah menahan air mata.
Harun berbisik lirih,“Mas… kalau kita tertangkap, bilang ke mereka kita cuma menjalankan tugas.”
4. Tertangkap: Ketika Semua Jalan Telah Tertutup
Ketika fajar mulai naik, mereka mencoba mencari perahu, kapal nelayan, apa saja yang bisa membawa mereka keluar. Tetapi langkah mereka diawasi mata-mata dan warga lokal yang curiga.Akhirnya, di daerah Katong, keduanya dihentikan oleh polisi Singapura setelah ada laporan dua pria asing yang basah dan kebingungan.
Dalam pemeriksaan, mereka tetap bungkam, tidak menyebut pangkat, tidak menyebut kesatuan, tidak memohon. Hanya diam, diam yang penuh dengan keyakinan bahwa seorang prajurit harus menanggung akibat tugasnya.Ketika identitas mereka terkuak sebagai anggota KKO, keduanya dipindahkan ke tahanan militer.
Masa interogasi berjalan keras, panjang, dan menguras jiwa. Tetapi catatan pengadilan menyebut mereka tidak pernah menyalahkan siapa pun. Mereka hanya mengatakan bahwa mereka menjalankan perintah negara.
5. Akhir yang Mengiris: “Kami siap…”
Pengadilan militer Singapura menjatuhkan hukuman mati. Indonesia memohon grasi.Keduanya tetap tenang.Di tengah kecemasan internasional, protes rakyat Indonesia, dan tekanan diplomatik, dua pemuda itu menghabiskan malam-malam terakhir mereka dalam sel sempit.
Mereka menulis surat untuk keluarga, untuk komandan, untuk tanah air.Pagi 17 Oktober 1968, keduanya dibawa ke tiang gantungan.
Usman berkata pelan “Saya mohon maaf… jika ada salah.” Harun berkata, “Tolong sampaikan salam saya pada Ibu.”Beberapa saat kemudian, tubuh mereka terjatuh dan kisah mereka berpindah dari ruang penjara ke ruang ingatan bangsa.
Sumber Sejarah yang Digunakan:Saya hanya menggunakan sumber resmi dan literatur sejarah yang diakui, yaitu:
1. National Archives of Singapore – Court Proceedings: “Public Prosecutor vs. Harun bin Said & Usman bin Haji Mohamed Ali”
2. “Konfrontasi: The Indonesia–Malaysia Dispute, 1963–1966” – Matthew Jones (Cambridge University Press, 2002)
3. “The Merger and the MacDonald House Bombing” – Singapore Ministry of Home Affairs, Historical Narratives
4. Kementerian Pertahanan RI – Dokumentasi Marinir tentang Pahlawan Nasional Usman & Harun
5. Arsip Museum Korps Marinir – Profil Pahlawan Usman Janatin & Harun Thohir

Tidak ada komentar