
SUMENEP, Serikatnasional.id – Bagi Haji Mukmin, persoalan harga tembakau bukan sekadar urusan jual beli. Pengusaha asal Kecamatan Ganding, Sumenep, ini mengaku memahami langsung bagaimana perjuangan petani mengelola tanaman tembakau sejak awal hingga masa panen.
Ia sendiri pernah berada di posisi petani yang harus mengeluarkan biaya untuk mengolah lahan, membeli bibit dan kebutuhan produksi, hingga menanggung risiko cuaca yang tidak menentu.
Karena itu, ketika berbicara mengenai harga tembakau, Haji Mukmin tidak hanya melihat dari sisi pembeli. Ia juga mempertimbangkan beban yang telah dikeluarkan petani.
“Saya ini petani. Saya tahu biaya petani itu berapa. Jadi kalau menentukan harga, saya juga melihat bagaimana biaya yang sudah dikeluarkan petani,” ujar Haji Mukmin.
Menurutnya, harga yang layak sangat penting agar petani tidak semakin terbebani. Apalagi, tembakau memiliki risiko tinggi, terutama ketika cuaca tidak mendukung.
Ia berharap petani dapat memperoleh harga yang sepadan dengan biaya dan tenaga yang telah dikeluarkan selama musim tanam.
Bagi Haji Mukmin, keberadaan gudang pembelian bukan semata-mata untuk mencari keuntungan. Penyerapan tembakau juga menjadi bagian dari upaya memberikan pilihan pasar kepada petani.
“Saya berharap petani bisa mendapatkan harga yang layak. Karena saya juga merasakan bagaimana menjadi petani,” katanya.
Musim panen tahun ini, Haji Mukmin menargetkan gudangnya di Desa Daramista, Kecamatan Lenteng, mampu menyerap hingga 1.000 ton tembakau.
Ia berharap semakin banyak tembakau petani yang terserap, semakin besar pula peluang petani mendapatkan kepastian pasar dan harga yang wajar.


Tidak ada komentar