Menjelang 1 Syawal

4 menit membaca
Redaksi SN

 

Penulis: Nurul Azizah

Alhamdulillah kita umat Islam akhirnya bisa melakukan ibadah syaum dan ibadah-ibadah yang lain di bulan suci Ramadhan. Kenikmatan beribadah benar-benar terasa sekali dibandingkan ibadah di luar Ramadhan.

Puasa sebulan penuh terasa ringan walau di luar udara terasa terik dan aktivitas kerja juga dilaksanakan. Rasa lapar dan dahaga lewat begitu saja. Sholat fardhu berjamaah juga tidak ketinggalan, terutama sholat isyak dan subuh tidak pernah tertinggal selalu dilakukan secara berjamaah, disamping juga Maqrib, asyar dan dzuhur. Cuma yang rutin setiap hari adalah sholat isyak dan subuh berjamaah.

Dengan demikian kita patut bergembira karena disamping menambah pundi-pundi pahala, juga dosa-dosa kita terampuni oleh Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Hurairoh RA yang artinya : 

“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Dari hadits tersebut secara konseptual bisa dimaknai sebagai “kembali suci,” kita mendapatkan ampunan dari Allah SWT, ini menyangkut hablum minallah.

Sedangkan hubungan dengan manusia (hablum minannas) kita saling maaf memaafkan satu sama lain. Kalau ini sudah kita lakukan dengan sendirinya kita menjadi suci lagi.

Ramadhan sebentar lagi meninggalkan kita semua, kita sudah digembleng dengan aneka ibadah wajib dan sunnah. Ramadhan ibarat bulan tarbiyah atau bulan pendidikan untuk rohani kita. Semoga di luar Ramadhan kita bisa melaksanakan ibadah-ibadah seperti puasa sunah 6 hari di bulan syawal, menjalankan sholat-sholat sunnah yang mengiringi sholat fardhu, menjauhi maksiyat, banyak mendengarkan ceramah keagamaan dan menambah literasi kita tentang keagamaan.

Kini Ramdhan benar-benar akan meninggalkan kita, apabila Ramadhan bisa berpesan kepada kita kemungkinan pesannya akan berbunyi :

“Assalamualaikum Warohmarullah hi Wabarokatuh .. “

“Aku hendak pamit, Aku akan pergi sebentar lagi.”

“Jika aku pergi nanti, tetaplah seperti ini. Tetaplah rajin mengaji ilmu.”

“Rajin membaca Al-Qur’an, jangan pernah tinggalkan sholat. Tetaplah bersholawat atas Rasulmu. Aku yakin, jika niatmu karena Allah, tanpa ada akupun, kau akan tetap menjadi yang terbaik.”

“Kau tetap bisa bersabar atas segalanya. Kau bisa melawan hawa nafsumu. Kau akan tetap bersedekah kepada siapapun. Lisanmu pun akan selalu berdzikir mengingat-Nya.”

“Jika aku sudah pergi nanti, jagalah imanmu, jaga dirimu, semoga kamu selalu istiqomah. Semoga Allah selalu meridhoi setiap langkahmu. Semoga kelak kita ketemu kembali, jika tidak, Ku harap kita akan bertemu di Syurga-Nya.”

Wassalamu’alaikum 🙏🙏🙏

Perpisahan dengan Ramadhan dan menyambut 1 Syawal juga penulis abadikan dalam sebuah puisi.

Menjelang 1 Syawal

Karya : Nurul Azizah

Sebulan penuh kita berpuasa

Menahan segala sesuatu yang membatalkan puasa.

Dari terbit fajar sampai waktu maqrib datang

Pagi .. siang .. malam kita berupaya untuk beribadah

Mengharap ampunan dosa

Beruntung orang yang mau menjalankan 

Ibadah dibulan suci Ramadhan

Ibadah untuk mendapatkan lailatul qodar

Malam kemuliaan yang pahalanya sama dengan ibadah 1000 bulan.

Kini Ramadhan telah berlalu dengan datangnya takbir .. Allahu akbar Allahu akbar .. Allahu akbar.

Laa ilaha illallah wallahu akbar Allahu akbar walillah ilham.

Tangan terasa dingin ..

Hati bergetar .. air mata mengalir

Badan menggigil .. hati berkecamuk

Berbagai rasa menyatu

Ketika kita mengumandangkan takbir

Mengagungkan kebesaran Allah 

Hingga menyambut fajar menjelang 1 Syawal

Betapa riang, senang hati kita bertakbir ..

Sehingga kita tidak terasa telah berpisah dengan bulan Ramadhan

Yang penuh barokah ampunan dan maqfiroh.

1 Syawal hari yang menyenangkan karena telah lulus ujian menahan hawa nafsu selama satu bulan.

Akan tetapi dilubuk hati yang paling dalam

Sebenarnya 1 Syawal hari yang menyedihkan karena berpisah dengan Ramadhan.

Ya Allah hamba-Mu memohon ke haribaan-Mu.

Tuntunlah hamba-Mu ini untuk tetap beribadah diluar bulan Ramadhan

Karena ibadah diluar Ramadhan terasa sangat berat, sangat malas 

Penuh paksaan, penuh godaan dan penuh kepura-puraan.

Ya Allah sebelum Ramadhan datang lagi tahun depan

Tuntunlah hamba-Mu ini untuk ibadah yang penuh keimanan dan keikhlasan

Buatlah hati ini bergetar mengucapkan Asma-Mu, bergetar mendengar ayat-ayat Mu

Ya Allah Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami, tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami.

Tetapkanlah pendirian kami 

dan tolonglah kami dari bujuk rayuan orang kafir

Seperti yang Engkau ajarkan dalam Al-Quran Surat Ali Imran 147.

Ya Allah kabulkan doa kami.

Laisal ‘ied liman libasuhu jadid

Walakinnal ied liman imanuhu yazid .. 

Uhanniuka bi’idil fitri ..

Minal aidin wal faizin.

Tidak ada kemenangan dengan pakaian yang baru, tampilan yang baru

Akan tetapi kemenangan itu untuk kemenangan keimanan.

Dengan datangnya Idul Fitri .. Mohon maaf lahir dan bathin.

Nurul Azizah, penulis buku ‘Muslimat NU di Sarang Wahabi’ minat hub penulis atau Sintesanews.com 0858-1022-0132.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *