
Puisi ini kutulis sebagai surat untuk engkau yang barangkali saat ini sedang duduk manis
Atau sedang tertidur mendengkur
Mungkin juga engkau sedang rekreasi bersama anak isteri
Atau juga sedang bercanda bersama sahabat di kursi sofa
Masih ingatkah engkau saat sedang mendekat untuk rakyat
Agar engkau terpilih dengan janji-janji memikat
Masih segar dalam ingatan
Saat engkau kampanye keliling untuk merebut perhatian
Sadarkah ketika engkau presentasi visi misi
Lalu pendukungmu sedikit menunjukkan bukti
Bahwa engkau layak memimpin sekalipun minim prestasi
Jabatan apa saja itu amanat
Dari tukang parkir hingga jabatan paling akhir
Sedetik saja adalah sebuah tanggung jawab
Jangan pasrah pada takdir
Agar engkau tak kualat
Semestinya diniatkan untuk mengabdi
Bukan untuk kesenangan pribadi
Idealismu terlalu tinggi
Ketika engkau sekolah di perguruan tinggi
Layaknya seorang akademisi yang mempunyai konsep cemerlang untuk membangun negeri
Tiba-tiba engkau seperti tak punya nyali
Ijazah yang engkau miliki
Ternyata hasil lobi untuk korupsi
Engkau terlalu banyak harapan
Semuanya tinggal bualan
Jalan tempat untuk mendapatkan penghasilan
Agar rakyatmu hidup layak menikmati pemerataan
Rusak terkelupas berlobang
Karena dibangun terlalu banyak mengambil untung
Engkau biarkan seakan hanya persoalan ringan
Proyek puluhan atau ratusan juta
Engkau nikmati hasilnya sebelum betul-betul bekerja
Seakan sumpah jabatan hanya pemanis buatan
Engkau simpan rapi dalam laci
Atau lemari yang terus terkunci
Bapak pejabat yang terhormat
Sampai kapan kondisi ini terus berlanjut
Dari bulan ke bulan
Dari tahun ke tahun
Tetap saja belum ada tanda-tanda perubahan
Hingga pohon asam yang kami tanam daun-daunnya terkelupas
Telah menumbuhkan tunas
Apakah engkau menunggu periode kedua
Atau masih menyiapkan anak cucumu untuk mengganti tahta
Hujan di atap rumah berjalan lambat
Karena engkau menunggu kiamat
Demikianlah dulu suratku
Semoga engkau masih punya sisa malu
Sekarang aku jadi tahu
Bahwa jalan mulus kadang membuat kehilangan fokus
Batu besar tak banyak gerak
Sedang batu kecil selalu berlagak
Seperti pohon kecil yang sering tertindas
Di tengah pohon besar yang meranggas
Sementara lampu besar senantiasa berbinar
Di antara lampu kecil yang berjejal
27/01/2023


Tidak ada komentar