Tartila, Santri Ponpes Taretan dan Siswi Mazarif Calon Hafidzah Pembelajar dan Pekerja Keras

3 menit membaca
Redaksi SN
Berita Terkini, News - 26 Feb 2022

SUMENEPNamanya adalah Tartila. Santri aktif Pondok Pesantren Terate Selatan (Ponpes Taretan) Pandian Sumenep. Perempuan berparas ayu ini terbilang pembelajar dan pekerja keras. Selain nyantri, siswi kelas XI MA Zainal Arifin ini juga memiliki tugas pengabdian di pondok yaitu berada di bagian khodam pengasuh putri

Di sela tugasnya yang kompleks, Tartila tidak pernah meninggalkan kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai siswi madrasah. Bahkan, dia terbilang siswi yang cukup menonjol serta lolos sebagai anggota OSIM masa bakti 2022-2023. Ini disebabkan oleh keuletannya saat belajar.

Tartila dan Hafidzah Quran

Tartila memiliki cita-cita luhur sebagai hafidzah atau muslimah penghafal Al Quran. Makanya, perempuan asli Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep ini selalu menyempatkan diri untuk menghafal kitab suci Al Quran di sela kesibukannya di pondok dan di madrasah. Bahkan dia tidak segan untuk menghabiskan waktu luangnya yang sebentar hanya untuk menghafal. 

Baginya, menghafal Al Quran telah menjadi rutinitasnya setiap hari. Dan menurutnya, kesibukannya yang luar biasa, tidak menyurutkan langkahnya untuk menjadi hafidzah. Ini juga diakui oleh para ustadz dan guru di Mazarif bahkan mereka ada yang takjub mengingat Tartila adalah orang yang sangat sibuk. 

Latar Belakang Kegemaran Tartila Menghafal Al Quran

Tartila mengakui kalau telah menghafal Al Quran sejak kelas 6 SD. Ini dilatarbelakangi oleh keinginan sang ibu setelah menonton lomba hafidz di salah satu Televisi swasta di kala itu. Sang Ibu berharap Tartila juga bisa menghafal Al Quran. Makanya di saat itu, Tartila pun mulai dimasukkan ke pondok pesantren tahfidz. 

Oleh karena sudah menjadi kebiasaan, maka Tartila pun lebih semangat untuk menjadi hafidzah. Apalagi ketika dia menemukan ketenangan termasuk kecerdasan yang semakin meningkat dengan menghafal Al Quran secara ikhlas dan kontinue. 

Tartila, Tak Pernah Membuat Waktu Terbuang Percuma

Pengakuannya pada media, Tartila tidak pernah membuat waktu terbuang sia-sia. Bahkan sejak jam 04.00, santri ini telah mulai beraktivitas. Seperti mencuci, melipat baju dan memasak yang dilakukan setelah sholat subuh berjamaah. Setelah itu, berangkat sekolah untuk belajar, dan pulangnya menyempatkan untuk menghafal Al Quran. 

Di sore hari, Tartila masuk sekolah diniyah dengan program yang cukup kompleks sampai malam hari. Semua kesibukannya ini dilakukan dengan senang hati dan penuh keikhlasan. Ya, Tartila berharap benar-benar ingin mendapatkan pahala dan faedah dari ilmu yang sedang dicarinya. 

Tartila dan Cobaan Saat Menghafal Al Quran

Menurut Tartila, untuk menghafal Al Quran itu mudah. Namun yang sulit adalah ketika menjaga hafalannya agar tetap bertahan. Kesulitan ini juga diperparah dengan cobaan yang terkadang hadir di sela-sela mempertahankan hafalan. 

Cobaan yang dimaksud seperti, rasa lelah, keinginan untuk bermain, dan rasa bosan. Ujian ini harus dilewatinya dengan berusaha menghafal dengan tekun. Baginya hafal Al Quran adalah momentum yang mungkin tidak hadir setiap saat. 

Tartila dan Harapan Terbesar

Ketika ditanyakan kepada Tartila tentang harapannya bagi seluruh teman-temannya terutama di MA Zainal Arifin, Tartila berharap, seluruh siswi bisa menjadi hafidzah Quran yang handal. Namun mereka juga tidak melupakan ilmu yang diberikan di madrasah. 

Tartila, sosok santri pekerja keras yang bisa dijadikan tauladan remaja putri di saat ini. Mungkin usianya masih belum genap 17 tahun, tetapi kecintaannya pada Al Quran dan ilmu agama sudah sangat besar. Sangat sesuai dengan nama yang diberikan oleh kedua orang tuanya, yaitu Tartila. (Ags)

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *