Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa NU Serukan Keteguhan: Rois Aam adalah Kompas yang Tak Boleh Goyah

2 menit membaca
Redaksi SN
News - 28 Jan 2026

Jakarta, Serikatnasional.id – Di tengah dinamika internal NU yang makin menghangat menjelang pergantian kepemimpinan, Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa NU, M. Nadhim Ardiansyah, menyampaikan seruan yang mengalun seperti lonceng di tengah keramaian: kembali ke Syuriyah, kembali ke Rais Aam, kembali ke sumber legitimasi organisasi.

Ia menilai, keputusan Syuriyah adalah pedoman tertinggi. Ia mengikat seluruh struktur NU dari pusat hingga pelosok. Karena itu, pihaknya memberikan dukungan penuh kepada Rais Aam dan langkah beliau memimpin rapat pleno Syuriyah PBNU pada 9–10 Desember 2025,” ujarnya.

“Mulai dari pengangkatan Pj Ketua Umum hingga penetapan jadwal Muktamar ke-35—kami berdiri tegas bersama Rais Aam.”katanya.

Nadhim menegaskan bahwa Rais Aam bukan sekadar pemimpin struktural, tetapi penjaga marwah kewenangan ulama dalam tubuh NU. Dalam masa transisi yang rawan salah tafsir, figur Rais Aam menjadi jangkar yang memastikan semua dinamika kembali pada garis organisasi.

“Rais Aam adalah titik keseimbangan. Ketika suasana mengabur, beliaulah yang menjaga terang,” katanya.

Sikap tegas ini juga ia tujukan saat menanggapi munculnya berbagai forum kultural yang mencuat di Bangkalan, Ploso, Tebuireng, Cirebon, Jogja, hingga Surabaya. Forum-forum itu, menurutnya, adalah ekspresi sehat dari dinamika warga, selama tidak menabrak rambu lembaga formal.

“Semua forum itu ikhtiar baik. Tetapi keputusan Syuriyah—yang dipimpin langsung Rais Aam—adalah rumah resmi di mana semua ikhtiar harus bermuara,” ujarnya.

”Ia juga mengingatkan bahwa para mustasyar memiliki ruang yang sah untuk menyampaikan pandangan mereka melalui rapat pleno PBNU—ruang yang berada sepenuhnya dalam koordinasi kepemimpinan Rais Aam.

Bahkan, dengan nada yang meneduhkan, Nadhim menyebut bahwa Gus Yahya tetap dapat diundang untuk menyampaikan salam perpisahan jika itu membantu kelapangan proses transisi.

“Dalam NU, perpisahan bukan luka—itu bagian dari adab, namun pada intinya, arah organisasi tidak boleh samar.

“Dalam masa seperti ini, kepatuhan kepada Rais Aam adalah kepatuhan kepada mekanisme. Dan mekanisme adalah syarat keselamatan organisasi,” tegasnya.

Ia berharap rapat pleno PBNU yang dipimpin Syuriyah, dan disupervisi langsung Rais Aam, melahirkan keputusan kolektif yang menghentikan kegaduhan serta membuka jalan terang menuju Muktamar.

“Jika NU ingin tetap menjadi lentera umat, maka kita harus kembali kepada sumber cahayanya. Syuriyah sebagai kompas. Rais Aam sebagai penjaganya.” Pungkasnya.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *