
Sumenep, Serikatnasional.id — Di tengah gegap gempita Hari Pahlawan, ketika bangsa seharusnya menundukkan kepala mengenang para pejuang sejati, pemerintah justru memilih mengangkat tokoh yang lebih dikenal sebagai arsitek represi menjadi Pahlawan Nasional. Ya, Soeharto sosok yang lebih akrab dengan kata otoriter daripada pengorbanan resmi diberi gelar yang seharusnya sakral. DPC GMNI Sumenep pun tak tinggal diam.
Ketua DPC GMNI Sumenep, Roni Ardiyanto, menyebut keputusan ini sebagai komedi sejarah yang tragis.
Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa gelar tersebut bukan hanya tidak pantas, tapi juga merupakan penghinaan terhadap jutaan rakyat yang menjadi korban dari rezim Orde Baru.
“Kalau Soeharto disebut pahlawan, maka kita harus bertanya: pahlawan bagi siapa? Bagi rakyat, atau bagi kroni dan konglomerat yang tumbuh subur di bawah bayang-bayang represi?” sindir Roni.
Pahlawan atau Penguasa yang Tak Pernah Mau Turun?
GMNI Sumenep menilai bahwa pemberian gelar ini adalah upaya sistematis untuk mencuci sejarah.
“Kita sedang menyaksikan upaya pemutihan dosa-dosa politik dengan tinta emas penghargaan negara. Ironisnya, tinta itu berasal dari air mata para korban penculikan, pembantaian, dan pembungkaman,” lanjut Roni.
Dalam catatan sejarah, Soeharto bukanlah tokoh yang dikenal karena keberpihakan pada rakyat kecil. Ia lebih dikenal karena keberhasilannya membungkam suara-suara kritis, membangun kekuasaan absolut selama 32 tahun, dan meninggalkan warisan utang serta ketimpangan yang masih terasa hingga kini. Tapi tampaknya, dalam logika kekuasaan hari ini, semua itu cukup untuk disebut jasa besar.
Hari Pahlawan atau Hari Parodi Nasional?
“Jika Soeharto bisa disebut pahlawan, maka jangan heran jika suatu hari nanti koruptor juga diberi penghargaan karena ‘berjasa menggerakkan ekonomi’,” ujar Roni dengan nada satir.
GMNI Sumenep menegaskan bahwa Hari Pahlawan bukanlah panggung glorifikasi kekuasaan, melainkan momen untuk meneguhkan keberpihakan pada rakyat dan menolak segala bentuk manipulasi sejarah.
DPC GMNI Sumenep menyerukan kepada seluruh elemen bangsa, khususnya generasi muda, untuk tidak tinggal diam.
“Kita tidak boleh membiarkan sejarah ditulis oleh mereka yang berkuasa, apalagi jika yang ditulis adalah dongeng indah tentang seorang diktator,” tegas Roni.
Dengan semangat Marhaenisme, GMNI Sumenep berkomitmen untuk terus mengawal isu ini dan mengajak seluruh organisasi progresif serta masyarakat sipil untuk bersatu menolak pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto.


Tidak ada komentar