
Situbondo, Serikatnasional.id — Di tengah kebijakan penutupan tempat hiburan selama bulan Ramadan, suara kelompok pekerja terdampak akhirnya muncul ke permukaan. Seorang pemandu lagu (Ladies Companion/LC) secara langsung menyampaikan keluhannya kepada Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, melalui sambungan telepon yang kemudian viral di media sosial.
Percakapan itu bukan sekadar obrolan biasa. Di dalamnya tergambar kegelisahan puluhan perempuan yang kehilangan penghasilan karena aktivitas kafe dan tempat hiburan dihentikan sementara.
“LC, janda-janda tidak kerja sama sekali, Pak,” ujar wanita yang mengaku mewakili rekan-rekannya.
Alih-alih membuka kembali ruang hiburan, Rio justru mengambil arah berbeda. Ia menawarkan solusi yang dinilai lebih jangka panjang dengan mendorong para pekerja tersebut beralih profesi.
“Berhenti saja jadi LC. Cari pekerjaan lain. Nanti saya bantu carikan kerja,” ucapnya dalam percakapan tersebut.
Dari dialog itu terungkap, sedikitnya ada sekitar 50 orang dengan profesi serupa yang terdampak langsung. Tawaran tersebut disambut positif oleh lawan bicaranya yang menyatakan siap meninggalkan pekerjaan lamanya.
Sikap Rio ini memperlihatkan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada penegakan norma selama Ramadan, tetapi juga upaya mendorong transformasi ekonomi bagi kelompok rentan. Meski begitu, respons publik di media sosial terbelah—sebagian menilai langkah tersebut solutif, sementara lainnya mempertanyakan realisasi janji tersebut.
Fenomena ini sekaligus membuka diskusi lebih luas: bagaimana kebijakan sosial-keagamaan berdampak pada sektor informal, dan sejauh mana pemerintah daerah hadir memberi solusi nyata, bukan sekadar pembatasan.


Tidak ada komentar