Jangan Sampai Layar HP Merebut Masa Kecil Kita: Batasi Medsos, Perbanyak Main di Dunia Nyata

2 menit membaca
Redaksi SN
Kolom Siswa, Opini - 05 Sep 2026

Penulis: Lia, Siswi Kelas XI Madrasah Aliyah An-Nusyur sekaligus menjabat Wakil ketua Organisasi Siswa Intra Madrasah (OSIM) di Lpp An-Nusyur

Opini, Serikatnasional.id – Zaman sekarang, hampir semua anak kecil sudah pintar memegang HP dan asyik berselancar di media sosial. Pemandangan anak-anak yang menatap layar berjam-jam seolah sudah menjadi hal yang biasa. Padahal, di balik keseruan dunia digital itu, ada ancaman serius yang mengintai kesehatan mental dan fisik mereka. Menurut saya, kebiasaan ini sudah masuk dalam tahap berbahaya dan harus segera dibatasi.

Bukan tanpa alasan, riset dari Unicef juga menemukan bahwa penggunaan medsos berlebihan bikin anak cemas dan kurang tidur. Jika dilihat dari perspektif sosiologi, fenomena ini mengganggu apa yang disebut sebagai proses sosialisasi primer anak. Sosiolog terkenal, Charles Horton Cooley, pernah menjelaskan teori Looking-Glass Self, di mana emosi dan konsep diri seseorang terbentuk dari bagaimana orang lain melihat dirinya. Di media sosial, anak-anak cenderung menilai diri mereka hanya berdasarkan jumlah likes, komentar, atau tren video. Ketika ekspektasi digital itu tidak terpenuhi, muncul rasa cemas dan tekanan mental yang tinggi pada jiwa anak.

Melihat dampak buruk tersebut, peran orang tua di rumah sangatlah penting. Sebaliknya, orang tua menunda pemberian HP dan lebih banyak mengajak anak main di dunia nyata. Sosiolog kontemporer sekaligus ahli media, Jean Baudrillard, juga pernah mengingatkan tentang bahaya simulakra—yaitu kondisi di mana dunia maya terasa lebih nyata daripada dunia asli. Jika anak dibiarkan kecanduan gadget, mereka akan asing dengan lingkungan sosialnya sendiri.

Oleh karena itu, mengajak anak kembali berinteraksi langsung melalui permainan tradisional atau olahraga sangat penting untuk mengasah empati dan kemampuan komunikasi mereka.

Kesimpulannya, teknologi memang memberikan banyak kemudahan, tetapi tidak boleh menggantikan indahnya masa kanak-kanak di dunia nyata. Mari kita bersama-sama lebih bijak dalam membatasi penggunaan gawai. Dengan mengajak anak kembali aktif bermain di dunia nyata, kita sedang menyelamatkan masa depan dan kesehatan mental generasi penerus bangsa.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *