
Penulis : Mila Siswi Kelas XI Madrasah Aliyah An-Nusyur
Opini, Serikatnasional.id – Selama ini, kita sering mendengar kalimat, “Kalau ada tetangga berantem, jangan ikut campur, itu urusan dapur mereka.” Namun, kejadian mencekam di Rongcangka baru-baru ini membuat kita harus berpikir ulang. Saat perkelahian suami istri melebar sampai membawa senjata tajam seperti celurit di depan umum, masalah itu bukan lagi sekadar urusan pribadi, melainkan sudah menjadi ancaman bagi keamanan kita bersama.
Kalau kita lihat dari sudut pandang sosial, keributan yang dipicu oleh masalah anak ini memperlihatkan betapa berbahayanya jika sebuah keluarga tidak bisa menahan emosi. Ketika amarah sudah memuncak, masalah yang harusnya diselesaikan baik-baik di dalam rumah malah dibawa ke luar. Dampaknya pun luar biasa bagi warga sekitar. Fakta bahwa ada tetangga yang sampai syok, pingsan, hingga kejang-kejang menunjukkan bahwa melihat kekerasan secara langsung bisa menimbulkan trauma psikologis yang nyata bagi masyarakat, terutama bagi anak-anak yang menyaksikannya.
Namun, di balik kejadian menakutkan itu, ada pelajaran berharga tentang pentingnya kepedulian antar-tetangga. Respons cepat warga Rongcangka yang berani maju bersama untuk melerai dan mengamankan situasi patut diacungi jempol. Di lingkungan yang padat, tetangga adalah “penolong pertama” sebelum polisi datang. Tindakan kompak warga ini membuktikan bahwa kepedulian sosial bisa menyelamatkan nyawa seseorang dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Kesimpulannya, kasus di Rongcangka ini harus menjadi pelajaran bagi kita semua untuk mengubah cara pandang. Kita tidak boleh menutup mata dan menganggap kekerasan dalam rumah tangga sebagai urusan yang tabu untuk dilerai. Ketika sebuah konflik sudah mengancam nyawa dan merusak ketenangan lingkungan, menegur atau melerai bukanlah bentuk “kepo” atau ikut campur, melainkan kewajiban kita sebagai manusia untuk saling menjaga.


Tidak ada komentar