Kementan Ingatkan Ancaman Hama dan Penyakit Padi, Petani Diminta Terapkan Pengendalian Terpadu

2 menit membaca
Redaksi SN
News - 12 Jun 2026

SUMENEP, Serikatnasional.id – Ancaman hama dan penyakit masih menjadi salah satu penyebab utama turunnya produktivitas bahkan gagal panen pada tanaman padi di Indonesia. Karena itu, petani diimbau menerapkan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) sebagai langkah efektif menjaga hasil panen.

Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Pragaan, Kabupaten Sumenep, Kurniawan, menjelaskan bahwa hama utama yang kerap menyerang tanaman padi meliputi tikus sawah, wereng batang coklat (WBC), penggerek batang, walang sangit, hama putih palsu, hingga keong mas.

“Serangan hama tersebut dapat mengakibatkan berbagai kerusakan, mulai dari tanaman mengering, bulir padi hampa, penurunan kualitas gabah, hingga kematian tanaman apabila tidak segera ditangani,” ujarnya.

Selain hama, sejumlah penyakit juga menjadi ancaman serius bagi budidaya padi. Di antaranya Hawar Daun Bakteri (HDB), penyakit blas, dan virus tungro.

Hawar Daun Bakteri menyebabkan daun menguning, mengering, hingga mati, terutama saat musim hujan. Sementara penyakit blas menyerang daun dan leher malai sehingga dapat mengurangi hasil panen secara signifikan. Adapun virus tungro menyebabkan tanaman menjadi kerdil, jumlah anakan berkurang, serta daun berubah menguning hingga oranye.

Menurut Kurniawan, upaya pengendalian tidak cukup hanya mengandalkan pestisida. Pendekatan yang dianjurkan adalah Pengendalian Hama Terpadu (PHT), yakni mengombinasikan berbagai metode pengendalian secara berkelanjutan.

Strategi tersebut meliputi penggunaan varietas padi tahan hama dan penyakit, penerapan kultur teknis seperti rotasi tanaman, tanam serempak, serta sanitasi lahan. Selain itu, pemanfaatan musuh alami seperti laba-laba, capung, dan burung hantu juga dinilai efektif dalam menekan populasi hama.

“Penggunaan pestisida tetap dapat dilakukan, tetapi harus secara bijak, tepat sasaran, sesuai dosis, dan hanya ketika benar-benar diperlukan agar tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan maupun keseimbangan ekosistem,” jelasnya.

Melalui penerapan Pengendalian Hama Terpadu, petani diharapkan mampu meminimalkan risiko serangan organisme pengganggu tanaman sekaligus meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen padi secara berkelanjutan.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *