
SUMENEP, Serikatnasional.id – Haflatul Imtihan Madrasah Annuqayah (HIMA) 2026 di Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, menghadirkan nuansa berbeda dengan menggelar bedah buku The Qur’anything: Anonymous of The Cave karya KH Muhammad Ismail Yahya Al-Ascholy. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat tradisi literasi, intelektual, dan sanad keilmuan di lingkungan Pondok Pesantren Annuqayah.
Bertempat di Auditorium Asy-Syarqawi, kegiatan tersebut diikuti ratusan peserta yang terdiri dari santri putra dan putri, mahasiswa, para kiai, serta dosen di lingkungan Annuqayah. Antusiasme peserta terlihat sepanjang jalannya diskusi yang membahas pendekatan memahami Al-Qur’an secara kontekstual dan dekat dengan realitas kehidupan.
Pengurus Yayasan Annuqayah, KH Ainul Haq, menegaskan bahwa tradisi akademik seperti bedah buku merupakan bagian penting dalam menjaga kesinambungan warisan keilmuan pesantren.
“Tujuan kita menghadirkan guru-guru kita adalah agar para santri memiliki sambungan sanad kepada guru-guru mereka. Itulah yang menjadi kekuatan utama tradisi pesantren,” ujarnya.
Diskusi dipandu Ketua Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin Universitas Annuqayah, Abd. Mun’iem, dengan KH Muhammad Al-Mubassyyir sebagai pembanding.
Dalam pemaparannya, KH Muhammad Al-Mubassyyir menilai buku The Qur’anything: Anonymous of The Cave menawarkan pendekatan yang segar dalam memahami Al-Qur’an. Menurutnya, karya tersebut mampu menjembatani pesan-pesan Al-Qur’an dengan dinamika kehidupan modern tanpa menghilangkan kedalaman makna.
Ia juga mengapresiasi gaya bahasa yang digunakan penulis karena ringan, komunikatif, dan mudah dipahami berbagai kalangan sehingga pembaca diajak berdialog dengan ayat-ayat Al-Qur’an melalui refleksi yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, penulis buku, KH Muhammad Ismail Yahya Al-Ascholy, menjelaskan bahwa buku tersebut merupakan kelanjutan dari karya sebelumnya, The Qur’anything: Sepuluh Surat dari Tuhan. Dalam buku terbarunya, ia menggunakan pendekatan yang lebih ringkas dan langsung mengajak pembaca memahami inti pesan setiap ayat.
“Buku ini menjadi jejak intelektual sekaligus spiritual dari sebuah perjalanan panjang bersama Al-Qur’an. Bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk direnungkan, diulang, dan dihidupkan,” ungkapnya.
Ia berharap setiap pembaca tidak hanya memahami Al-Qur’an secara tekstual, tetapi juga mampu mengimplementasikan nilai-nilainya dalam cara berpikir, bersikap, dan menjalani kehidupan.
Pada sesi penutup, Kiai Ismail mengajak umat Islam memaknai pesan Surat Al-Kahfi secara lebih luas. Menurutnya, perlindungan dari fitnah Dajjal juga harus dipahami sebagai kewaspadaan terhadap berbagai tantangan zaman, seperti munculnya ulama su’, fenomena gus-gusan, derasnya arus konten digital yang dapat melemahkan akidah, kecintaan berlebihan terhadap dunia, hingga lunturnya penghormatan kepada orang tua dan guru.
Melalui forum tersebut, Haflatul Imtihan Annuqayah 2026 tidak hanya menjadi penanda berakhirnya proses belajar mengajar, tetapi juga mempertegas komitmen Pondok Pesantren Annuqayah dalam menjaga tradisi literasi, memperkuat sanad keilmuan, serta menghadirkan kajian Al-Qur’an yang relevan dengan perkembangan zaman.


Tidak ada komentar